Sebuah perjalanan anak manusia tidaklah semulus yang terbayangkan,
terkadang kita hanya melihat pada masa kesuksesannya saja. Dibalik
sebelum kesuksesan diraih, banyak hambatan dan rintangan yang harus
dilalui. Setiap kesuksesan pasti didapat dengan keseriusan dalam
meraihnya. Kesuksesan tidak ada yang datang tiba-tiba, tidak ada yang
tanpa sebab.
Demikianlah sekelumit gambaran perjalanan hidup Almarhum Ust. H.
Naharussurur dalam mengarungi kehidupan dunia. Penulis sengaja mengawali
tulisan ini dengan gambaran tersebut, supaya kita tidak selalu dan
terus beranggapan bahwa kesuksesan itu akan dapat diraih dengan mudah.
Tulisan ini walaupun sederhana tetapi berupaya untuk mengungkap kepada
para pembaca tentang sebuah perjalanan Almarhum Ust. H. Naharussurur.
Lahir di kampung Tegalsari pada tanggal 29 November 1940. Tempat
lahir beliau tepatnya adalah di depan Gedung Salam Rohmah Pondok
Pesantren Ta’mirul Islam Surakarta (sekarang sudah dibangun rumah).
Bapaknya bernama KH. Syafi’i dari desa Karanganom Klaten. Ibu beliau
adalah Intiyah, putri dari KH. Iskak Kartohudoro. Dari perkawinan
KH. Sayi’fi dan Intiyah ini dilahirkan 3 Putra. Yang pertama adalah Hj. Qoyyimah, kedua Almarhum H. Naharussurur, dan ketiga KH. Misbahussurur.
KH. Sayi’fi dan Intiyah ini dilahirkan 3 Putra. Yang pertama adalah Hj. Qoyyimah, kedua Almarhum H. Naharussurur, dan ketiga KH. Misbahussurur.
KH. Syafi’i, setelah menikah beliau bekerja kepada kakak ipar beliau
yang bernama KH. Ahmad Al-Asy’ary. Setelah 17 tahun menikah beliau belum
dikaruniai putra. Maka disampaikanlah hal tersebut kepada kakak iparnya
yang juga majikannya. Setelah mendengarkan hal tersebut, bukan solusi
yang didapat, tetapi KH. Syafi’i diberi tugas untuk menagih piutang
batik dari para pedagang di Kalimantan. Tugas ini diberikan
KH. Ahmad Al-Asy’ary kepada Mbah Syafi’i ditengah kegalauan beliau. Namun demikian dilaksanakanlah tugas tersebut sebaik-baiknya. Atas izin Allah Ta’ala, sekembali beliau dari merantau di Kalimantan Ibu Intiyah dikaruniai Allah untuk mengandung anak pertama (Hj. Qoyyimah).
KH. Ahmad Al-Asy’ary kepada Mbah Syafi’i ditengah kegalauan beliau. Namun demikian dilaksanakanlah tugas tersebut sebaik-baiknya. Atas izin Allah Ta’ala, sekembali beliau dari merantau di Kalimantan Ibu Intiyah dikaruniai Allah untuk mengandung anak pertama (Hj. Qoyyimah).
Dua tahun setelah itu lahirlah putra kedua yaitu H. Naharussurur dan
dua tahun kemudian Ibu Intiyah mengandung putra ketiga yaitu H.
Misbahussurur, namun saat H. Misbahussurur lahir, ibu Intiyah dipanggil
Allah, sehingga saat itu ketiga putra putri KH. Syafi’i sudah tidak
punya ibu, dan ternyata KH. Syafi’i 2 th kemudian menyusul istrinya
sehingga ketiga-tiganya putra putri KH. Syafi’i telah yatim-piatu, saat
itu usia H. Naharussurur 4 th.
Saat itulah episode kehidupan Almarhum H. Naharussurur berubah, yang
telah menjadi seorang yatim piatu pada umur 4 tahun. Sejak saat itu pula
beliau dipelihara oleh kakek, nenek atau saudara-saudara tua beliau
dari Karanganom Klaten.
Masa kecil beliau selalu dihiasi dengan kesederhanaan dan kesulitan,
namun tetap saja ada canda tawa di dalamnya, karena masih pada masa
kanak-kanak. Sering beliau bercerita, pengalaman yang didapat semasa
kecil, terlebih tumbuh sebagai anak yatim piatu. Tatkala Hari Raya
datang, setelah melaksanakan sholat idul fitri, anak-anak seusianya
selalu didampingi oleh bapak ibunya ketika silaturrohim kepada sanak
saudaranya. Namun beliau tidaklah demikian, jangankan didampingi,
melihat wajah keduanyapun belum pernah dapat dibayangkan, karena kedua
orang tuanya telah meninggal ketika beliau masih kecil. Namun hal ini
tidak menjadikan beliau kecewa, tapi malah tambah pasrahnya kepada Allah
dan tambah dekat dengan keluarga besar. Inilah salah satu tirakat
beliau yang patut kita contoh.
Setelah menginjak usia Sekolah Dasar, beliau banyak tinggal di kota
Solo. Diasuh oleh Kakek Neneknya dari garis keturunan Ibu Intiyah yaitu
KH. Iskak Kartohudoro.
Tidak ada tempat pasti bagi beliau untuk tidur di malam hari, bahkan untuk makan sehari-haripun beliau juga tidak tahu pasti.
Beliau selalu menunggu ajakan saudara-saudaranya untuk bersantap
dirumahnya. Pernah suatu ketika beliau duduk di kelas 5 SD, beliau
disuruh oleh saudaranya untuk mengantarkan barang ke desa Popongan
Klaten (+15 Km dari Tegalsari Solo). Sepulang dari mengantar barang tersebut dengan bersepeda, beliau barulah diajak makan pagi.
Inilah gambaran, bahwa sejak kecil, beliau telah kenyang dengan
perjuangan untuk memperoleh setiap apa yang diinginkan. Setiap
kesuksesan selalu menghajatkan kepada kesungguhan dalam menggapainya.
Walau tidak menetap, tapi beliau lebih sering tinggal di rumah kakak
sepupunya Pakde Yasin di kampung Baron Gede. Keberadaan beliau disinipun
jauh dari sempurna, keluarga Pakde Yasin bukanlah keluarga yang
berkecukupan, namun mempunyai kepedulian yang tinggi terhadap beliau
yang yatim piatu.
Pendidikan Sekolah Dasar H. Naharussurur ditamatkan di SD Djama’atul
Ikhwan Surakarta. Biaya sekolah banyak ditopang oleh KH. Ahmad
Al-Asy’ary. Selama menempuh pendidikannya di SD Djama’atul Ikhwan itu
pula beliau selalu menghabiskan waktunya di kampung Tegalsari Surakarta.
Di tengah itu beliau sempat belajar di Pondok Al-Muayyad di bawah
asuhan KH. Umar Abdul Mannan. Ada cerita menarik saat mondok bahwa
beliau di pondok makan hanya dua kali yaitu siang dan malam, makan pagi
tidak dapat jatah, beliau cerita bahwa jika melihat teman-temannya yang
ada biaya untuk makan pagi beliau merasa tambah lapar, apalagi setelah
makan pagi masih membawa secangkir kopi dan pisang goring.
Setelah menyelesaikan pendidikan jenjang Sekolah Dasar, oleh KH Ahmad
Al-Asy’ari, beliau dikirim untuk sekolah di Pondok Modern Darussalam
Gontor Ponorogo. Sebuah tempat pendidikan yang belum pernah beliau
ketahui. Saat itu beliau sebenarnya mempunyai keinginan untuk mondok di
sebuah pondok pesantren terkenal bersama teman sebaya di kampung. Namun
hal ini diurungkan karena dilarang oleh Mbah KH. Ahmad Al Asy’ary, sebab
kalau beliau ikut mondok disana maka hanya akan banyak bercanda dengan
teman sebayanya. Tujuan sebenarnya malah tidak tercapai. Maka jatuhlah
pilihan ke Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo.
Pendidikan di Pondok Gontor ditempuh selama 7 tahun mulai tahun 1954.
Sering beliau bercerita, ketika pertama kali diantar ke Pondok Gontor,
angkutan terakhir yang ditumpangi adalah delman atau andong. Saking
pelosoknya –saat itu- sampai terbayang oleh beliau apakah akan bisa
betah atau krasan mondok ditempat yang seperti ini. Sepanjang jalan
masih ditumbuhi dengan pohon bambu yang sangat rimbun dengan dihiasi
suara binatang pohon bambu yang tidak pernah henti. Namun hati berubah
100% setelah melihat lapangan sepak bola yang letaknya persis berdekatan
dengan asrama pondok. Hati yang tadinya susah berubah menjadi senang
riang gembira. Terdetik dalam benak beliau “berarti bakat saya akan
terasah disini”. Sejak saat itu beliau tulis dialmarinya sebuah motifasi
“SAYA HARUS LULUS“ benar saja, selama di Gontor, beliau banyak dikenal oleh sesama santri karena kemampuan dan kecerdasan beliau dalam mengocek si kulit bundar. Pernah pada waktu acara tasyakkuran 80 tahun Gontor, beliau silaturrohmi ke Gontor, saat itu beliau bertemu dengan beberapa alumni yang sudah sangat tua yang beliau tidak kenal, tapi setelah berkenalan dan beliau memperkenalkan diri dengan “embel-embel” pemain bola, spontan alumni yang sudah tua tadi langsung mengenalinya.
“SAYA HARUS LULUS“ benar saja, selama di Gontor, beliau banyak dikenal oleh sesama santri karena kemampuan dan kecerdasan beliau dalam mengocek si kulit bundar. Pernah pada waktu acara tasyakkuran 80 tahun Gontor, beliau silaturrohmi ke Gontor, saat itu beliau bertemu dengan beberapa alumni yang sudah sangat tua yang beliau tidak kenal, tapi setelah berkenalan dan beliau memperkenalkan diri dengan “embel-embel” pemain bola, spontan alumni yang sudah tua tadi langsung mengenalinya.
Kenangan yang tidak pernah terlupakan di Gontor dan selalu beliau
tularkan kepada para santrinya antara lain: Ketika beliau dituduh
mencuri. Suatu saat keeper team beliau mencuri sejumlah uang, saat
tertangkap, keeper tersebut ditanyai, “siapa teman kamu yang sama-sama
mencuri!”, tanpa pikir panjang keeper tersebut menunjuk “Naharussurur”.
Beliau secara spontan tertuduh sebagai teman dalam pencurian tersebut.
Tuduhan tersebut berdasarkan karena beliau selama belajar di pondok
hanya mendapat kiriman uang itu pun tidak cukup untuk membayar
administrasi SPP, walaupun demikian beliau terlihat selalu tenang dan
tidak terlihat kekurangan uang.
Celakanya cerita ini sampai ke telinga pimpinan pondok, dan langsung
memvonis beliau sebagai pencuri yang tidak pantas hidup di pondok.
Sampai beliau dilaporkan ke polisi dan sempat beberapa minggu dipenjara
di Ponorogo. Padahal beliau hanya terkena fitnah dari keeper teamnya
tadi.
Selama dipenjara, walau tidak disiksa secara fisik namun secara
mental sangat terpukul, teman-teman sepondok sudah memvonis demikian,
gurunyapun sudah menvonis demikian, beliau harus berjuang melawan
keadaan tersebut dengan memunculkan kebenaran, tapi bagaimana caranya,
beliau bingung.
Ditengah kegundahan beliau, datang utusan dari pondok memanggil
beliau menghadap pimpinan pondok. Dengan harap-harap cemas beliau
menghadap pimpinan pondok, dengan harapan semoga telah terbuka tabir
fitnah tersebut. Tapi harapan tersebut ternyata jauh dari keinginan,
beliau diperintahkan untuk pulang walau ujian kenaikan kelas sudah
dekat, beliau sadar bahwa ini adalah fitnah, tapi alasan tersebut tidak
diterima oleh pimpinan pondok. Beliau harus pulang karena dianggap
salah, dengan kata lain disekors dari pondok.
Mendengarkan keputusan tersebut, beliau menerimanya dengan seksama,
kemudian pulang ke solo. Beberapa bulan di solo, beliau mendapatkan
surat panggilan kembali ke pondok. Dengan segera, panggilan tersebut
diiyakan dan langsung beliau berangkat ke Gontor tanpa pikir panjang.
Sesampainya di Pondok beliau langsung menghadap pimpinan pondok. Saat
itulah pimpinan pondok memutihkan nama beliau, beliau diberi tahu bahwa
yang kemarin adalah fitnah, sang keeper sudah mengakui dan beliau
almarhum tidak dianggap bersalah. Saat itu pula santri dikumpulkan, dan
dengan jelas bapak pimpinan pondok gontor mengumumkan kepada seluruh
santri bahwa almarhum tidak bersalah dan berhak belajar kembali di
pondok. Beliau bukanlah seorang pencuri seperti yang pernah dituduhkan
sebelumnya. Bahkan untuk menambah kepercayaan kepada beliau, pimpinan
pondok memberikan amanat kepada beliau untuk ikut mengurusi keuangan
pondok. Hal ini dilakukan supaya nama beliau kembali bersih. Tidak hanya
itu, beliau juga diberikan amanat untuk mengajar not balok karena
beliau ahli membaca not balok kepada santri kelas enam.
Inilah sepenggal kisah perjalanan mondok beliau, jika dilihat secara
lahiriah, sangatlah menyesakkan ketika dituduh mencuri, divonis sebagai
orang yang tidak pantas hidup di pondok, namun itu semua ditanggapi
dengan kearifan dan lapang dada. Tidak dihadapi dengan emosional dan
amarah. Karena walau bagaimanapun, gurunyalah yang berkata demikian.
Setiap kejadian pastilah ada hikmah yang terkandung didalamnya.
Walau almarhum harus mengulang kelas 5, kala itu tidak beliau
risaukan. Beliau tidak terlalu memikirkan, saya adalah kelas 5, yang
sudah menjadi pengurus, kenapa malah difitnah, hal itu jauh–jauh beliau
buang. Walau mengulang kelas 5, dijalaninya dengan seksama. Akhirnya
kelas 5 dan 6 beliau lalui dengan sempurna dan mendapatkan ijazah
kelulusan dari Pondok Gontor tanggal 23 April 1961.
Pengalaman yang lain, Pernah selama lebih dari satu tahun beliau
tidak menerima kiriman bayaran dari rumah. Walau kiriman dari rumah
tetap kuurang untuk bayar bulanan pondok, tetapi tetap saja dikirimi.
Selama beberapa waktu beliau selalu tidak mendapat kiriman untuk
membayar, padahal dari rumah selalu mengirim bayaran sekolah beliau.
Selama itu pula beliau tidak pernah jajan, bahkan minum air yang
dimasakpun tidak pernah. Karena ketika itu pondok tidak menyediakan air
masak, bagi yang menginginkan minum air masak maka harus membeli di
kantin. Karena beliau tidak punya uang makan, beliau selalu minum air
sumur. Setelah diusut, ternyata sebenarnya wesel beliau selalu ada
setiap bulan, tetapi diambil oleh orang lain yang namanya sama.
Setelah tujuh tahun belajar di Pondok Gontor, beliau pulang ke Solo
dengan membawa predikat lulus dengan memuaskan. Kemudian beliau oleh KH.
Ahmad Al-Asy’ari diperintahkan untuk meneruskan kuliah di Institut
Agama Islam Sunan Kalijaga Yogyakarta, saat itu beliau berusia 20 tahun.
Beliau meneruskan di Fakultas Usuluddin IAIN Sunan Kalijaga
Yogyakarta. Di perguruan ini beliau tidak hanya kuliah, beliau juga
mengajar di daerah klaten. Setiap hari beliau pergi dan pulang,
Klaten–Yogyakarta untuk mengajar. Dan ini dilalui dengan menggunakan
sepeda onthel, sebuah perjuangan untuk meneruskan kuliah.
Belajar beliau di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tidak sampai jenjang
S1, Beliau hanya sampai D3 dengan gelar BA. Setelah menyelesaikan
program perkuliahan dan tinggal skripsi S1 beliau dipanggil pulang ke
solo kembali ke tanah kelahiran beliau di Tegalsari. Oleh KH. Ahmad
Al-Asy’ari kemudian beliau dinikahkan dengan salah satu putrinya yang
mempunyai nama kecil Mulyani sering dipanggil Yu Mul.
Pernikahan beliau tidak seperti kebanyakan orang, beliau sangat sadar
dengan keadaan beliau yang tidak punya apa-apa. Ditawari oleh pakdenya
yang tidak lain adalah KH. Ahmad Al-Asy’ari untuk nikah dengan putrinya
adalah suatu kehormatan. Hal tersebut karena, selama ini yang menopang
biaya sekolah almarhum adalah KH. Ahmad Al-Asy’ari. Sehingga biasa
dikatakan beliau adalah majikannya. Almarhum juga sering diutus ke suatu
tempat untuk menyelesikan suatu urusan. KH. Ahmad Al-Asy’ari pun tanpa
canggung mengutusnya, selain keponakannya, juga beliau membiayai
sekolahnya. Bahkan tidak jarang putrinyapun juga tidak jarang minta
bantuan kepada almarhum untuk suatu urusan. Nah ketika almarhum ditawari
untuk dijadikan mantu, beliau sangat bingung, dan dikonsultasikannlah
dengan Almarhum Bp. Yasin. Selanjutnya beliau tidak berani menanyakan
lagi, karena suatu hal yang terlihat sangat jauh dari kenyataan.
Ternyata Allah berkehendak lain, pada tahun 1963 dinikahkanlah
almarhum dengan putri dari KH. Ahmad Al-Asy’ari yang bernama Mulyani
selanjutnya setelah dewasa namanya berubah Muttaqiyah.
Awal-awal pernikahan dilalui dengan segala perjuangan. Setelah
menikah beliau langsung diberikan tanggungjawab oleh KH. Ahmad
Al-Asy’ari untuk menghidupi keluarga. Akhirnya beliau membuka toko
kelontong. Dari kecil akhirnya bisa menjadi ramai, sampai suatu ketika
setiap hari beliau harus bolak-balik ke Pasar Legi untuk membeli
barang–barang yang akan dijual, hal ini karena sangat terbatasnya modal,
dan banyaknya permintaan akan barang. Beliau tidak mau membeli dengan
hutang. Beliau berprinsip lebih baik bolak-balik kulakan dari pada harus
berhutang untuk mdal. Inilah sikap yang jarang dimiliki generasi
sesudahnya. Dalam bekerja mencari uang beliau tidak pingin cepat
berhasil atau cepat kaya. Karena hal itu bisa menjadikan kita
menghalalkan segala cara untuk mencapainya.
Selama kurang lebih 15 tahun beliau bergulat dengan maju mundurnya
usaha toko, sampai pada tahun 1979, beliau diizinkan Allah untuk menjadi
tamu Allah pergi Haji ke Baitullah. Kelima putra yang ditinggalkan
tidak ditinggali uang saku, hanya toko yang banyak barang. Selama 40
hari barang toko selalu dijual, tetapi tidak membeli barang, hasil
penjualan habis untuk makan para anak-anaknya.
Sepulang menunaikan ibadah haji, usaha toko selalu gagal bila
dirintis kembali untuk hidup. Allah memilihkan jalan lain, sejak saat
itu pula bakat beliau untuk berdakwah mulai dilirik masyarakat. Akhirnya
sejak tahun 1980 beliau sering diundang unutk mengisi ceramah
kesana-kemari. Usaha tokopun akhirnya tutup. Tahun 1986, setelah putra
beliau yang kedua lulus dari pondok Gontor, beliau berniat untuk
mendirikan pondok. Hal ini melihat bahwa tanah peninggalan KH. Ahmad
Al-Asy’ari sangat luas dan beliau sangat ingin untuk merealisasikan para
pendahulu beliau yag menginginkan di Tegalsari ini ada pondok setelah
Masjid Tegalsari.
Akhirnya pada tanggal 14 Juni 1986 dicanangkanlah berdirinya Pondok
Pesantren Ta’mirul Islam. Hiruk pikuk perkembangan pondok selalu
menghiasi perjalanan hidup beliau. Sampai suatu ketika beliau berpikiran
untuk membuat suatu konsep agar pondok ini tidak hanya seumur
pimpinannya, bisa bertahan terus sepanjang masa dan keutuhan pondok
tetap terjaga.
Akhirnya dibentuklah suatu badan wakaf pondok yang bertugas untuk
menjaga kelangsungan pondok. Pondok tidak diserahkan kepada keluarga
secara mutlak. Beliau sadar betul bahwa pondok ini adalah milik ummat,
sehingga yang mengelolapun haruslah ummat, bukan keluarga saja, namun
hal ini tidak terus menjadikan keturunan beliau melepas dan tak mau tahu
urusan pondok, malah sebaliknya harus menjadi yang terdepan dalam
mengurusi pondok.
Pada tahun 2005 oleh Ibu Hj. Muttaqiyah diikrarkanlah wakaf semua
tanah warisan beliau dari KH. Ahmad Al-Asy’ari untuk Pondok Pesantren
Ta’mirul Islam. Kecuali tanah yang sudah ditempati ketiga anaknya yang
berada di pondok tidak diwakafkan. Ketiga anak tersebut adalah, Ust. H.
M. Halim, Ust. H .M. Ali, dan Ust. H. M. Adhim. Selain tanah, rumah
beliau bertiga telah diwakafkan kepada pondok.
Beberapa hari sebelum beliau masuk rumah sakit untuk yang terakhir
kali, penulis mohon supaya KH. Misbahussurur dijadikan sebagai Ketua
Majlis Tinggi Pondok. Majlis inilah yang berfungsi dan bertugas untuk
memilih, mengangkat dan memberhentikan pimpinan pondok. Usulan ini
beliau setujui.
Pada akhir hayat beliau, tepatnya hari selasa, 15 Juni 2010, penulis
mengirim undangan kepada semua anggota majlis tinggi untuk hadir di
Masjid Yarsis pada hari Rabu, 16 Juni 2010, jam 13.00 WIB. Hal ini
karena kebetulan saat itu KH. Misbahussurur dari Purwokerto sedang
berada di Solo. Kesempatan tersebut akan kami sampaikan bahwa mereka
semua menjadi pengurus dan anggota majlis tinggi yang bertanggung jawab
akan pondok.
Namun Allah berkehendak lain, pada jam itu pula, tepatnya jam 13.38
Allah memanggil Ust. H. Naharussurur menghadap keribaan Ilahi. Pergi
untuk selamanya. Suasana tambah duka dan tidak terperikan. Setelah
jenazah dibawa kerumah duka dan dimandikan, pondok terus dibanjiiri para
pelayat yang akan memberikan penghormatan terakhir.
Pada sore harinya, KH. Syukri Zarkasyi datang melayat, beliau
menyarankan agar pimpinan pondok segera ditunjuk sekarang. Walau beliau
sudah meninggal, tapi pulung masih beliau bawa. Sehingga
sebelum beliau dimasukkan ke liang lahat hendaklah sudah ada yang
ditunjuk sebagai pengganti, agar tongkat kepemimpinan tidak kosong.
Akhirnya pada malam tanggal 17 Juni 2010, dimusyawarahkanlah siapa
pimpinan pondok berikutnya. Dan ditunjuklah ketiga putra beliau yang
berada di solo sebagai pengganti tugas beliau memimpin pondok, ketiganya
adalah :
- H. Mohamad Halim, S.H
- H. Muhammad ‘Aly
- H. Moh. ‘Adhim, S.Ag, M.Pd
Berikut susunan Majlis Tinggi Pondok Pesantren Ta’mirul Islam
Ketua : KH. Misbahussurur
Wakil : KH. Muh. Alim
Anggota :
KH. Muhammad Halim, SH
Ust. Wazir Tamami, SH
KH. Muh. Ali Naharussurur
Ust. H. Moh. Adhim, S. Ag, M.Pd
Ust. Sunardi Sudjani, S.Th.I, M.Pd.I
Ust. Samadi, S.Ag., M.S.I
Hj. An-Ni’mah Naharussurur

0 komentar:
Posting Komentar